CONTOH PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

CONTOH PROPOSAL PTK YANG BAIK DAN BENAR
A.    JUDUL
PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PESERTA DIDIK DALAM MEMERANKAN TOKOH DRAMA (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas V MIS. Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya Tahun Pelajaran 2014/2015)

B.     LATAR BELAKANG MASALAH
Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu pendidikan untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Oleh karena itu, seorang guru dituntut kemampuannya untuk menggunakan berbagai metode dalam pembelajaran. Penggunaan metode pembelajaran di Kelas V MIS. Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya pada pelajaran bahasa Indonesia dalam kemampuan berbicara hanya dilakukan dengan menyuruh murid berdiri di depan kelas untuk berbicara misalnya bercerita atau berpidato. Sedangkan peserta didik yang lain diminta mendengarkan. Akibatnya, pembelajaran berbicara kurang menarik. Peserta didik yang mendapat giliran merasa tertekan karena di samping harus menyiapkan bahan sering kali juga melontarkan kritik yang berlebih-lebihan sehingga peserta didik merasa kurang tertarik kecuali ketika mendapat gilirannya. Terutama jika dalam memerankan tokoh drama seringkali peserta didik berbicara tidak sesuai situasi dan konteks berbahasa yang sesungguhnya.

Dengan melihat kenyataan di lapangan, kurangnya kemampuan peserta didik dalam berbicara/mengungkapkan perasaan disebabkan oleh penyajian guru dalam pembelajaran yang sebagian besar menggunakan metode ceramah, tanpa peragaan atau gerakan-gerakan dan ekspresi wajah yang sesuai, sehingga tujuan pembelajaran yang ingin dicapai masih kurang maksimal atau perolehan nilai evaluasi peserta didik masih banyak di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) Bahasa Indonesia yaitu 67 (enam puluh tujuh).

Apabila hal di atas dibiarkan, maka akan dapat mengakibatkan dampak seperti menurunnya prestasi belajar peserta didik serta dirasakan sulit bagi peserta didik untuk berbicara/mengungkapkan perasaan dengan nada dan gerak serta mimik wajah yang sebenarnya. Untuk dapat mengatasi hal tersebut, dalam pembelajaran diperlukan adanya penggunaan metode yang bervariasi.

Penggunaan metode bermain peran adalah cara tepat bagi peserta didik untuk belajar dan berlatih berbicara dengan mengungkapkan perasaan melalui gerakan-gerakan serta ekspresi wajah, sehingga kemampuan berbicara peserta didik nantinya akan semakin meningkat. Metode bermain peran akan lebih baik jika dalam pembelajaran berbicara, guru benar-benar tepat dan baik menggunakan metode tersebut. Maka, dengan penggunaan metode yang dilakukan ini dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih baik karena dilakukan sesuai dengan langkah-langkah yang ada.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik dan termotivasi untuk melakukan penelitian dengan judul “PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PESERTA DIDIK DALAM MEMERANKAN TOKOH DRAMA” (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas V MIS. Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya Tahun Pelajaran 2014/2015)”.

 C.    IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut :
  1. Kurangnya kreatifitas guru dalam menggunakan metode pembelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran berbicara berlangsung monoton dan membosankan.
  2. Peserta didik kurang mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat berbicara dalam memerankan tokoh drama.
  3. Perlunya metode pembelajaran dalam peningkatan kemampuan berbicara peserta didik yang inovatif dan kreatif sehingga proses pembelajaran berlangsung aktif, efektif dan menyenangkan.
  4. Penggunaan metode bermain peran dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik dalam memerankan tokoh drama.

D.    BATASAN MASALAH
Maka batasan masalah dalam penelitian ini adalah penggunaan metode bermain peran dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik dalam memerankan tokoh drama.

E.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Bagaimana perencanaan penggunaan metode bermain peran dalam memerankan tokoh drama meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik kelas V Madrasdah Ibtidaiyah Sindangraja?
  2. Bagaimana pelaksanan penggunaan metode bermain peran dalam memerankan tokoh drama dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik kelas V Madrasdah Ibtidaiyah Sindangraja?
  3. Bagaimana hasil penggunaan metode bermain peran pada materi memerankan tokoh drama dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik kelas V Madrasah Ibtidaiyah Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten  Tasikmalaya tahun Pelajaran 2014/2015?
F.     TUJUAN PTK
Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan, maka tujuan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:

a. Secara Umum
Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui penggunaan metode bermain peran dalam memerankan tokoh drama dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik Kelas V MIS. Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya.

b. Secara Khusus
Secara khusus, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :
  1. Perencanaan penggunaan metode bermain peran dalam memerankan tokoh drama dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik Kelas V MIS. Sindangraja Kecamata Jamanis Kabupaten Tasikmalaya.
  2. Pelaksanaan penggunaan metode bermain peran dalam memerankan tokoh drama dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik Kelas V MIS. Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya.
  3. Hasil penggunaan metode bermain peran dalam memerankan tokoh drama dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik Kelas V MIS. Sindangraja Kecamata Jamanis Kabupaten Tasikmalaya.
G.     MANFAAT PTK
Adapun manfaat dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
1.    Secara Teoretis
  1. Sebagai pedoman bagi guru untuk meningkatkan keprofesionalannya dalam mengajar dengan menggunakan metode bermain peran
  2. Memberikan peluang bagi guru untuk memiliki pengetahuan dan pengalaman dengan menggunakan metode bermain peran
2.    Secara Praktis
a.    Untuk guru:
Memperbaiki pembelajaran bagi guru dalam upaya meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik memerankan tokoh drama dengan menggunakan metode bermain peran di Kelas V MIS. Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya.

b.    Untuk peserta didik:
  1. Meningkatkan kemampuan peran aktif peserta didik dalam kegiatan pembelajaran berbicara
  2. Peserta didik dapat lebih berani mengungkapkan kata-kata yang benar dan percaya diri dalam memerankan tokoh drama dengan menggunakan metode bermain peran 
c.    Untuk sekolah:
Tercapainya mutu pendidikan yang baik dan terlaksananya pengelolaan pendidikan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam kemampuan berbicara pada pelajaran bahasa Indonesia di Kelas V MIS. Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya.

H.    LANDASAN TEORI
1.     Hakikat Bermain Peran
Istilah bermain peran mempunyai empat pengertian, yaitu (1) sesuatu yang bersifat sandiwara di mana pemain memainkan peran tertentu sesuai dengan lakon yang sudah ditulis dan memainkannya untuk tujuan hiburan; (2) sesuatu yang bersifat sosiologis atau pola-pola perilaku yang ditentukan oleh norma-norma sosial; (3) suatu perilaku tiruan atau tipuan di mana seseorang berusaha memperbodoh orang lain dengan jalan berperilaku berlawanan dengan apa yang sebenarnya diharapkan, dirasakan, atau diinginkan; dan (4) sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan di mana individu memerankan situasi yang imajinatif dengan tujuan untuk membantu tercapainya pemahaman diri sendiri, meningkatkan keterampilan, menunjukkan perilaku kepada orang lain bagaimana perilaku seseorang atau bagaimana seseorang harus bertingkahlaku. Corsini (dalam Tatiek, 2001 : 99).

Sedangkan menurut Bennet, dalam Tatiek (2001 : 99) mengemukakan bahwa bermain peran adalah suatu alat belajar yang mengembangkan keterampilan-keterampilan dan pengertian-pengertian mengenai hubungan antar manusia dengan jalan memerankan situasi-situasi yang paralel dengan yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya.

Corsini, dalam Tatiek (2001 : 99) menyatakan bahwa bermain peran dapat digunakan sebagai : (a) alat untuk mendiagnosis dan mengerti seseorang dengan cara mengamati perilakunya waktu memerankan dengan spontan situasi-situasi atau kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupan sebenarnya; (b) media pengajaran, melalui proses “modeling” anggota dapat lebih efektif melalui keterampilan-keterampilan antar pribadi dengan mengamati berbagai macam cara dalam memecahkan masalah; dan (c) metode latihan untuk melatih keterampilan-keterampilan tertentu melalui keterlibatan secara aktif dalam proses bermain peran.

Dari sekian banyak pengertian bermain peran, dapat disimpulkan bahwa bermain peran adalah suatu kegiatan yang di dalamnya melakukan perbuatan-perbuatan yaitu gerakan-gerakan wajah (ekspresi) sesuai dengan apa yang diceritakan.

Namun yang penting untuk diingat bahwa bermain peran yang dikembangkan di Sekolah Dasar adalah kegiatan sebagai media bermain peran.

Kemampuan berperan di sini meliputi kemampuan menghayati emosi, kesukaan, kesedihan, dan kebiasaan-kebiasaan lain dari tokoh yang diperankan. Kemudian penghayatan terhadap mimik, gerak tubuh,intonasi suara yang dimiliki tokoh tersebut.

2.      Langkah-langkah Bermain Peran
Dalam bermain peran langkah-langkah yang harus ditempuh yaitu ada empat langkah sebagai berikut menurut Hesti dkk, (2004) :
  1. Membacakan naskah drama atau percakapan dengan intonasi jeda, lafal, dan volume suara yang sesuai. Kalimat-kalimat dalam kurung tidak perlu dibaca, karena kalimat-kalimat tersebut merupakan petunjuk laku.
  2. Menentukan watak tokoh dan ekspresi yang tepat untuk memerankan tokoh tersebut.
  3. Berlatih berulang-ulang sampai betul-betul dapat memerankan tokoh dengan baik.
  4. Menggunakan perlengkapan panggung dan kostum yang sesuai agar percakapan yang diperankan lebih hidup.
Apabila hal-hal di atas dapat dilakukan dengan baik dan sungguh-sungguh, maka secara otomatis akan menjadikan hidupnya percakapan karena dilakukan oleh anak-anak yang aktif dan kreatif sesuai dengan watak tokoh masing-masing.

3.      Metode Bermain Peran
Metode bermain peran atau teknik pengajaran adalah suatu cara penguasaan pelajaran kegiatan pengembangan imajinasi penghayatan suatu tokoh tertentu. Tarigan dkk (1991 : 389). Teknik bermain peran sangat baik dalam mendidik peserta didik untuk menggunakan ragam-ragam bahasa.

Bermain peran dapat dilakukan dalam berbagai macam peranan. Seseorang dapat memerankan berbagai peran dalam satu harinya, misalnya sebagai seorang ibu, istri, teman, kepala sekolah, penjual, pembeli, dan sebagainya. Pada setiap peranan tersebut seorang anak harus dapat berperilaku sesuai dengan peran yang dilakukannya. Cara anak berperilaku pada setiap peranan tersebut bergantung pada status atau posisinya dengan pasangan perannya. Jadi, perilaku ibu kepada anaknya berbeda dengan perilakunya terhadap suaminya dan berbeda pula dengan perilakunya terhadap bawahannya di sekolah.

Cara berbicara orang tua tentu berbeda dengan cara berbicara anak muda, cara berbicara pembeli berbeda dengan cara berbicara penjual. Fungsi dan peranan seseorang menuntut cara berbicara atau berbahasa tertentu pula. (Tarigan dkk 1991 : 389).

Dalam bermain peran, peserta didik bertindak, berlaku, dan berbahasa sesuai dengan peranan tokoh yang diperankannya. Misalnya sebagai guru, polisi, hakim, dokter, pedagang, dan sebagainya. Setiap tokoh tertentu menuntut karakteristik tertentu pula. Dengan kata lain kepribadian seseorang adalah keseluruhan peranan yang diperankannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, masyarakat, dan pekerjaan sekalipun. Seseorang dapat dikatakan mempunyai penyesuaian diri yang baik apabila dapat berperilaku sesuai dengan peranan yang dimilikinya baik sebagai individu maupun makhluk sosial.

4.      Manfaat Bermain Peran.
Manfaat bermain peran, seperti dikemukakan oleh Wiriawan (dalam Julaeha, 2009:17) adalah sebagai berikut:
  1. Mengembangkan kreatifitas peserta didik (dengan peran yang dimainkan peserta didik dapat berpantasi)
  2. Memupuk kerjasama antara peserta didik.
  3. Menumbuhkan bakat peserta didik dalam seni drama
  4. peserta didik lebih memperhatikan pelajaran karena menghayati sendiri.
  5. Memupuk keberanian berpendapat di depan kelas.
Selanjutnya Dhieni (dalam Julaeha, 2009:17) mengemukakan manfaat bermain peran bagi peserta didik adalah sebagai berikut:
  1. Menyalurkan ekspresi anak-anak kedalaman kegiatan yang menyenangkan.
  2. Mendorong aktivitas, inisiatif dan kreatifitas anak sehingga dapat berpartisipasi dalam pembelajaran
  3. Memahami isi cerita karena mereka ikut memainkan atau memerankan.
  4. Menghilangkan perasaan malu, rendah diri, kesengsaraan dan kemurungan pada anak.
  5. Mengajar anak saling membantu dan bekerja sama dalam bermain peran serta meningkatkan perasaan saling percaya dan toleransi kepada kesanggupan orang lain.
Sesecara garis besar,manfaat bermain peran adalah mampu meningkatkan bakat minat peserta didik dalam belajar.

5.      Hakikat Berbicara
“Berbicara secara umum dapat diartikan sebagai suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dipahami oleh orang lain”. (Zamzani dan Haryadi, 1996: 54). Pengertian secara khusus banyak dikemukakan oleh para pakar seperti Tarigan (dalam Zamzani dan Haryadi, 1996 : 54) mengemukakan “Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan menyatakan pikiran, gagasan dan perasaan”.

“Berbicara pada hakikatnya merupakan proses komunikasi, sebab di dalamnya terjadi pemindahan pesan dari suatu sumber ke tempat lain”. (Zamzani dan Haryadi, 1996 : 54). Berbicara merupakan bentuk perilaku yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, semantik, dan linguistik. Pada saat berbicara orang memanfaatkan faktor fisik yaitu alat ucap untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bahkan organ tubuh lain seperti kepala, tangan, dan roman muka dimanfaatkan dalam berbicara. Faktor psikologis memberikan andil yang cukup besar terhadap kelancaran berbicara. Stabilitas emosi misalnya, tidak hanya berpengaruh pada kualitas suara yang dihasilkan oleh alat ucap, tetapi berpengaruh juga terhadap keruntutan bahan pembicaraan. Berbicara tidak lepas dari faktor neurologis yaitu jaringan syaraf neuron yang menghubungkan otak kecil dan mulut, telinga, dan organ tubuh lain yang ikut dalam aktivitas berbicara. Demikian pula faktor semantik yang berhubungan dengan makna serta faktor linguistik yang berhubungan dengan struktur bahasa yang selalu berperan dalam kegiatan berbicara. Bunyi yang dihasilkan alat ucap kata-katanya harus disusun agar menjadi lebih bermakna. (Zamzani dan Haryadi, 1996 : 56). Selanjutnya menurut Stewart dan Kenner Zimmer (dalam Zamzani dan Haryadi, 1996 : 56) memandang kebutuhan akan komunikasi yang efektif dianggap suatu yang esensial untuk mencapai keberhasilan setiap individu maupun kelompok.

Berbicara merupakan hal mudah namun bukanlah hal sepele, akan tetapi berbicara dengan memperhatikan langkah-langkah berbicara itu yang dianggap mudah dan baik.

“Berbicara merupakan cara berkomunikasi bagi manusia sebagai makhluk sosial yaitu suatu tindakan saling menukar pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan dan mengekspresikannya”. (Tarigan, 1984 : 67). Oleh karena itu dalam tindakan sosial suatu masyarakat dalam menghubungkan sesama anggota masyarakat tersebut diperlukan komunikasi. Pengajaran berbicara perlu memperhatikan dua faktor yang mendukung ke arah tercapainya pembicaraan yang efektif yaitu (1) faktor kebahasaan seperti ; (a). pelafalan bunyi bahasa, (b). penggunaan intonasi, (c). pemilihan kata dan ungkapan, (d). penyesuaian kalimat paragraf. Sementara faktor yang ke(2) yaitu faktor non kebahasaan meliputi ; (a). ketenangan dan kegairahan, (b). keterbukaan, (c). keintiman, (d). isyarat non verbal, dan (e). topik pembicaraan. (Haryadi dan Zamzani, 1996 : 61).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berbicara adalah kegiatan berkomunikasi secara lisan yang di dalamnya berisi penyampaian pesan dari sumbernya ke tempat lain dan kadang kala disertai gerak serta mimik (ekspresi) sesuai dengan apa yang dibicarakan oleh pembicara.

6.      Langkah-langkah Berbicara
Keterampilan berbicara di depan khalayak ramai (public speaking) tidak akan muncul begitu saja pada diri seseorang. Keterampilan diperoleh setelah melalui berbagai latihan dan praktek penggunaannya. Karena itulah para ahli banyak menaruh perhatian terhadap upaya membina dan mengembangkan keterampilan berbicara.

Enhinger, dkk (dalam Tarigan, 1991 : 195) mengajukan delapan langkah dalam berbicara yaitu ; (a) menyeleksi dan memusatkan pembicaraan, (b) menentukan tujuan khusus pembicaraan, (c) menganalisis pendengar dan situasi, (d) mengumpulkan materi pembicaraan, (e) menyusun kerangka dasar pembicaraan, (f) mengembangkan kerangka dasar, (g) berlatih dengan suara keras, jelas, dan lancar, (h) menyajikan pembicaraan.

Keraf (dalam Tarigan, 1991 : 195) mengusulkan tujuh langkah dalam berbicara. Ke tujuh langkah tersebut yaitu : (a) menentukan maksud, (b) menganalisis pendengar dan situasi, (c) memilih dan menyempitkan topik, (d) mengumpulkan bahan, (e) membuat kerangka uraian, (f) menguraikan secara mendetail, dan (g) berlatih dengan suara nyaring.

Selanjutnya Wainright (dalam Tarigan, 1991 : 196) menyarankan enam langkah dalam berbicara :

a)      Memilih topik
Dalam berbicara haruslah memilih topik yang sesuai dengan permintaan atau tuntutan di mana kita akan tampil sebagai pembicara.

b)      Menguasai dan menguji topik
Topik yang dipilih sesuai dengan tuntutan keadaan dan harus dipahami, dimengerti, dan dikuasai oleh pembicara. Kemudian topik dikaji dan diuji dari berbagai sudut pandang.

c)      Memahami pendengar dan situasi
Sebelum pembicaraan berlangsung, pembicara harus menganalisis latar belakang pendengar dan situasi seperti minat, kebiasaan, usia, harapan, jenis kelamin, tingkat kemampuan, pekerjaan, ruangan, tempat, lokasi, suasana lingkungan (tenang, bising), waktu (pagi, siang, sore, malam), dan sarana (pengeras suara, penerangan), dan sebagainya.

d)     Menyusun kerangka
Berdasarkan topik yang telah dipilih, susunlah kerangka pembicaraan. Kerangka pembicaraan yang tersusun baik sangat bermanfaat bagi pembicara sendiri dan juga pendengar. Bagi pembicara kerangka berfungsi sebagai pedoman, penuntun arah mengisi pembicaraan. Sedangkan bagi pendengar, kerangka berfungsi sebagai sarana memudahkan mengikuti dan memahami isi pembicaraan.

e)      Mengujicobakan
Apabila kerangka pembicaraan sudah tersusun dengan baik, maka perlu diujicobakan. Pertama, mengundang beberapa teman dan bila telah selesai mintalah teman-teman untuk mengkritik penampilan. Kedua, rekamlah pembicaraan sebagai balikan paling lengkap yakni memutar kembali pembicaraan yang diambil pada waktu permainan berlangsung. Ketiga, berbicara di depan cermin dan amatilah penampilan dalam cerita tersebut.

f)       Menyajikan pesan, pembicaraan harus berpedoman pada butir-butir pembicaraan. Biasanya pembicaraan menggunakan kartu kecil, sehingga pembicaraan dapat menguraikan satu persatu secara wajar, tidak berlebih-lebihan apalagi dibuat-buat.

Dalam berbicara hendaknya menggunakan bahasa yang sederhana sesuai taraf kemampuan pendengar. Aturlah suasana agar tidak terlalu formal, sekali-kali dapat diselipkan humor dalam pembicaraan agar pendengar lebih bergairah.

 I.       HIPOTESIS TINDAKAN
Penggunaan metode bermain peran dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik Kelas V MIS. Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya.

 J.      RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
1.      Setting Penelitian
  • PTK ini dilaksanakan di Kelas V MIS. Sindangraja
  • PTK ini akan dilaksanakan pada awal semester genap tahun pelajaran 2014/2015
  • PTK ini dilaksanakan dalam tiga siklus untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan prestasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia melalui metode bermain peran
2.      Persiapan
Dalam persiapan PTK ini, peneliti menjelaskan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dijadikan sasaran penelitian. Peneliti juga menjelaskan instrument-instrumen penelitian yang akan digunakan seperti silabus, RPP, lembar observasi, lembar evaluasi, dan LKS.

3.      Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas V MIS. Sindangraja yang berjumlah 36 orang yang terdiri dari 19 peserta didik perempuan dan 17 peserta didik laki-laki.

4.      Instrument dan Teknik Penelitian
Teknik pelaksanaan tindakan penelitian terdiri atas empat kegiatan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun PTK yang digunakan adalah mengacu pada model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart, yaitu kegiatan tindakan dan observasi dilaksanakan secara serempak.

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam tindakan penelitian ini adalah :
a.       Tes tertulis atau tulisan
Tes tertulis dilakukan pada awal dan akhir pembelajaran. Tes yang dilakukan pada awal pembelajaran disebut pritest dengan tujuan untuk mengetahui konsepsi awal pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran sebelum dilakukan tindakan, sedangkan tes yang dilakukan di akhir pembelajaran disebut postest dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran setelah dilakukan tindakan

b.      Observasi
Observasi dalam kegiatan belajar mengajar, dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran, baik bersifat umum, maupun khusus yang berkenaan dengan aspek-aspek proses pendekatan yang dikembangkan. Aspek yang di observasi diantaranya ialah aktifitas peserta didik dalam belajar dan aktifitas guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran.

5.      Analisis Data
  • Teknik observasi, instrumennya berupa lembar pengamatan. Instrument untuk kinerja peserta didik dan kinerja guru.
  • Teknik tes, instrumennya berupa lembar soal.
Analisis data hasil penelitian menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Analisis dilakukan pada setiap siklus pembelajaran dengan menggunakan tahapan sebagai berikut :
  • Pengumpulan data hasil Penelitian Tindakan Kelas tentang kinerja guru dan kinerja peserta didik dalam peningkatan kemampuan berbicara peserta didik tentang memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat melalui penggunaan metode bermain peran dalam pembelajaran bahasa Indonesia di Kelas V MIS. Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya.
  • Pengelompokkan data, yaitu kinerja peserta didik, kinerja guru, dan peningkatan kemampuan berbicara peserta didik dalam memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat melalui penggunaan metode bermain peran dalam pembelajaran bahasa Indonesia di Kelas V MIS. Sindangraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya.
  • Interpretasi dan refleksi data, berdasarkan tingkat pencapaian misalnya : baik (66,67 – 100%), sedang (33,34 – 66,66%), atau kurang (0% - 33,33%).
  • Rekomendasi dan tindak lanjut ditentukan berdasarkan hasil refleksi data, apakah perlu atau tidak diadakan siklus pembelajaran berikutnya.
6.      Prosedur PTK
Prosedur PTK meliputi perencanaan tindakan (planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation and evaluation), dan melakukan refleksi (reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai -
CONTOH PROPOSAL PTK YANG BAIK DAN BENAR

DAFTAR PUSTAKA
BNSP. (2006). Standar Isi 2006. Jakarta: Depdikbud.
Gintings, Abdorrakhman. 2008. Esensi Praktis Belajar & Pembelajaran. Bandung: Humaniora.
Iskandar, dan Mukhtar. 2010. Desain Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta : Gaung Persada Press.
Julaeha, D. (2009). Penggunaan Metode Bermain Peran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran  IPS. S1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya: Tidak diterbitkan.
Junaedi. Dkk. 2009. Strategi Pembelajaran. Surabaya : Aprinta.
Sumiati, dan Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima.
Tarigan, (1984). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Uno, Hamzah B. 2009. Model Pembelajaran : Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta : Bumi Aksara.
----------, (1991). Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia I. Buku Modul Jakarta: Depdikbud.
Wiraatmadja, R. (2006). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosda Karya Offset.
CONTOH PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS | abdan syakuro | 5